BANYUWANGI, MEDNAS.ID –
Hujan yang mengguyur hampir seluruh wilayah Kabupaten Banyuwangi menyebabkan peningkatan debit air sungai secara signifikan.
Di Dam Blambangan/Singir, debit air tercatat mencapai 78.726 liter per detik, disertai kiriman sampah berupa ranting dan dahan pohon yang menyulitkan pengoperasian pintu air.
Kondisi ini menegaskan bahwa persoalan banjir dan sungai tidak semata soal curah hujan, tetapi juga soal tata kelola lingkungan.
Petugas Dinas Pengairan di lapangan patut diapresiasi karena tetap siaga penuh, bahkan alat berat ekskavator telah disiapkan untuk mengantisipasi dampak terburuk. Untuk wilayah hilir seperti Kecamatan Muncar dan sekitarnya, kondisi saat ini masih dinyatakan aman dan terkendali. Namun kewaspadaan tetap harus dijaga karena hujan belum sepenuhnya reda.
Di sisi lain, persoalan sampah dari wilayah hulu kembali menjadi masalah tahunan yang seolah tak pernah tuntas. Imbauan “jangan buang sampah ke sungai” terus digaungkan, namun realitas di lapangan menunjukkan bahwa seruan moral saja tidak cukup.
Perlu diakui secara jujur, masih banyak warga yang kesulitan menemukan fasilitas pembuangan sampah yang layak, mudah diakses, dan terjangkau.
Di titik inilah peran pemerintah seharusnya lebih hadir. Menuntut kesadaran masyarakat tanpa dibarengi kemudahan sistem pengelolaan sampah justru berpotensi melahirkan persoalan baru. Ketersediaan TPS yang memadai, layanan pengangkutan yang rutin, hingga edukasi berkelanjutan harus berjalan beriringan.
Jika membuang sampah pada tempatnya dibuat sulit, maka sungai akan terus menjadi “pilihan terakhir” bagi sebagian warga, Selasa (20/01)
Masalah sampah di sungai bukan hanya merugikan masyarakat hilir, tetapi juga membebani petugas yang bekerja di tengah risiko dan cuaca ekstrem. Karena itu, tanggung jawab menjaga sungai tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada masyarakat. Pemerintah perlu memastikan sistemnya hadir dan berfungsi, agar masyarakat memiliki pilihan yang benar dan mudah.
Hujan mungkin tak bisa dikendalikan, tetapi cara kita mengelola sampah seharusnya bisa diatur. Ketika debit air meningkat dan sampah ikut mengalir, di situlah kita diuji: apakah sungai benar-benar kita jaga bersama, atau hanya kita sesali saat bencana datang.
Opini ini ditulis Oleh Ari Bagus Pranata













